16
Sep
08

dilema investasi asing

Perpustakaan Nasional: Katalog Dalam Terbitan (KDT)

Dr. Zulkarnain Sitompul, SH, LLM

 

DILEMA INVESTASI ASING

Hak Cipta @ Dr. Zulkarnain Sitompul, SH, LLM

Cetakan pertama: Agustus 2008

Bibliografi, indeks, lampiran, 128 hlm,  15×20 cm

 

Penerbit

BOOKS TERRACE & LIBRARY

Kompleks Metro Trade Center Blok  B No. 21

Jl. Soekarno-Hatta Bandung 40268

Telp/Fax. 62-22-7537555

 

ISBN  878-979-99024-9-8

 

Menurut penulisnya Dr. Zulkarnaen Sitompul, buku ini adalah ”buku yang bukan buku” (a nonbook-book), yang isinya tidak lebih hanya merupakan “percikan pemikiran” semata. Tema sentral yang dibahas adalah investasi asing baik investasi langsung (foreign direct invesment) maupun investasi portfolio. Pembahasan tentang investasi tentu tidak dapat dihindari keterkaitannya yang sangat erat dengan masalah-masalah yang mempe-ngaruhi iklim invetasi seperti sistem keuangan dan perbankan. Tema tersebut sengaja dipilih karena investasi khususnya investasi asing dipercaya dapat mendorong pertum-buhan ekonomi. Namun, kehadiran investor asing juga penuh dengan kontroversi dan banyak dihujat berbagai kalangan. Kehadiran investasi asing dikatakan merusak lingkungan, menumbuhkan budaya korupsi dan menguasai sumber daya domestik sehingga perlu dibentuk komite penyelamat kekayaan negara. Padahal, investasi asing sudah sejak lama kita kenal. Aspek negatif yang ditimbulkan investasi asing seringkali disebabkan tidak dikerjakannya homework oleh tuan rumah (host country). Lemahnya penegakan hukum dan buruknya governance antara lain adalah faktor utama munculnya dampak negatif kehadiran investor asing di suatu negara.

Di kawasan Asian Tenggara, salah satu negara yang cukup maju dan sukses di bidang penanaman modal asing adalah Korea Selatan. Pada  tahun 1960 Korea Selatan adalah salah satu negara termiskin di dunia, dengan pendapatan per kapita lebih kecil dibandingkan dengan banyak negara di sub-Saharan Africa, seperti pendapatan rata-rata penduduk Somalia 10% lebih tinggi dari penduduk Korea Selatan. Ketika itu keterlibatan Korea Selatan dalam perdagangan barang dan jasa dengan negara lain sangat minimal dan modal asing yang masuk ke Korea Selatan juga kecil, kurang dari USD 400 juta per tahun. namun sekarang, Korea Selatan adalah anggota Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD). Apa yang menyebabkan Korea Selatan dapat menjadi seperti sekarang ini. Jawabannya sederhana yaitu globalisasi, peningkatan keterlibatan perekonomian Korea dalam pasar dunia.

Arfumentasi yang diberikan para ahli, bahwa satu-satunya cara bagi negara miskin untuk menjadi kaya adalah menyediakan insentif agar  modal bersedia mengalir ke sektor-sektor yang paling produktif di negara tersebut. Apabila modal yang dialokasikan kepada penggunaan yang produktif merupakan kebutuhan untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi dan pembangunan, maka pertanyaannya adalah bagaimana agar hal tersebut dapat terlaksana? Jawaban singkat atas pertanyaan tersebut adalah dengan mengembangkan atau membangun institusi yang baik yaitu institusi yang dapat mengalokasikan modal secara efisien. Persyaratan paling dasar untuk menciptakan institusi yang mendorong pertumbuhan adalah institusi yang menjamin hak milik yaitu rule of law, membatasi kewenangan pemerintah melakukan perampasan (expropriation) dan rendahnya praktik korupsi. Kalau negara yang dengan mudah merampas hak milik baik melalui todongan senjata atau melalui korupsi aparatur pemerintah, maka mungkin hanya orang sinting yang mau berinvestasi di negara tersebut.

Persoalan lain yang perlu mendapat perhatian adalah  alokasi dana. Meskipun telah dilakukan investasi tetapi investasi tersebut ditanamkan  ke sektor yang salah maka akan mubazir. Oleh karena itu,  hal kedua yang perlu diperhatikan dalam membangun institusi adalah institusi yang menjamin dana investasi akan mengalir ke sektor terbaik untuk berinvestasi. Lembaga keuangan melalui sistem keuangan yang efisien memainkan peran krusial dalam melaksanakan alokasi dana tersebut. Singkat kata, investasi asing akan bermanfaat apabila institusi yang dikembangankan adalah institusi yang memberikan perlindungan terhadap hak milik dan yang menciptakan sistem keuangan menjadi efisien.

Pembahasan dalam buku ini dikelompokan dalam empat topik dan satu penutup. Topik pertama membahas peran yang dapat dimainkan oleh industri keuangan khususnya perbankan dalam menciptakan iklim investasi yang sehat. Juga dibahas masalah-masalah berkaitan dengan keterlibatan Indonesia dalam Organisasi Perdagangan Dunia (World Trade Organization). Bab ini beragumentasi bahwa sistem perbankan yang kuat efisien dan kuat pada gilirannya akan mampu mengalokasikan sumber daya ke sektor yang produktif.

Topik kedua  bercerita tentang bagaimana peran yang perlu dimainkan oleh pemerintah. Alasannya adalah diantara negara-negara ASEAN posisi Indonesia dalam faktor-faktor tertentu yang diperlukan dalam membangun rezim investasi tertinggal dibandingkan negara anggota ASEAN lainnya, bahkan dengan Vietnam. Oleh karena itu, perlu dilakukan perbaikan misalnya dengan mempermudah proses perijinan dan penegakan hukum. Selain itu juga dibahas tentang perlunya memberikan akses terhadap sistem keuangan bagi pengusaha kecil untuk meredam ”kejam”nya persaingan yang dibawa oleh globalisasi.

Topik ketiga  mengetengahkan upaya memperkuat sistem perbankan melalui kebijakan konsolidasi. Topik ini sengaja dipilih karena sekaligus menggambarkan dua hal. Pertama, upaya menciptakan sistem perbankan yang kuat dan efisien yang penting bagi terbentuknya iklim investasi yang sehat. Kedua, kebijakan yang dikenal dengan single presense policy dapat diartikan ”membatasi” kehadiran investor asing khususnya pada industri perbankan. Dengan demikian kebijakan ini merupakan kebijakan yang mencoba mengkaji ulang peran investor asing dalam pembangunan Indonesia.

Topik terakhir menjelaskan krisis keuangan yang diawali di Amerika Serikat dan dikenal dengan subprime mortgage crises. Sengaja dibahas karena menyangkut investasi portfolio dan peran yang dimainkan pemerintah dalam mengatasi krisis tersebut. Ini penting untuk dijadikan perbandingan dalam memahami  peran yang dilakukan oleh Pemerintah Indonesia sewaktu menghadapi krisis keuangan tahun 1997. Krisis yang menyebabkan kerugikan milyaran dollar Amerika Serikat dan menghancurkan lembaga-lembaga keuangan besar tersebut menyiratkan pelajaran bahwa maksud baik (menyediakan perumahan bagi masyarakat luar) dapat menjadi bencana bila tidak diatur dengan baik. Untungnya pada saat krisis tersebut berlangsung, industri perbankan Indonesia sedang menikmati instrumen investasi berisiko rendah namun menguntungkan yaitu Sertifikat Bank Indonesia sehingga terhindah dari mala-petaka tersebut. Pelajaran pentingnya adalah those who get the profits should take the pain.

Terakhir, sebagai penutup pengantar ini, “buku yang bukan buku” ini berupaya mencari “benang merah” untuk dijadikan renungan dan kajian lebih mendalam. Akhir kata, one without faith is sure to fail. (EN)


0 Responses to “dilema investasi asing”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


September 2008
S S R K J S M
    Okt »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

Blog Stats

  • 75,846 hits

%d blogger menyukai ini: