18
Sep
08

aml regime indonesia

REJIM ANTI-MONEY LAUNDERING DI INDONESIA 

Prof. Dr. Bismar Nasution, S.H., M.H.,

Cet. 2 – Bandung: BooksTerrace & Library, 2005

xvi + 727 hlm + indeks, 23 cm 

Bibliografi 

ISBN  979-3360-16-X

 

Penerbit

BooksTerrace & Library

Pusat Informasi Hukum Indonesia

(Information Center for Indonesia Law)

Kompleks Metro Trade Centre Blok B No. 21

Jalan Soekarno-Hatta Bandung – 40286

Telp/Fax: 66-22-7537555

 

 

Menurut Bismar Nasution praktik pencucian uang sebagai suatu kejahatan yang berdimensi internasional merupakan hal baru di banyak negara termasuk Indonesia. Sebegitu besarnya dampak negatif yang ditimbulkannya terhadap perekonomian suatu negara, sehingga negara-negara di dunia dan organisasi internasional merasa tergugah dan termotivasi untuk menaruh perhatian yang lebih serius terhadap upaya pencegahan dan pemberantasannya. Praktik pencucian uang (money laundering) baik secara langsung maupun tidak langsung dapat mempengaruhi sistem perekonomian, dan pengaruhnya tersebut merupakan dampak negatif bagi perekonomian itu sendiri.

Dalam pandangan umum, pencucian uang seringkali hanya dihubungkan dengan bank, lembaga pemberi kedit atau pedagang valuta asing. Namun perlu diketahui bahwa selain produk tradisional perbankan seperti tabungan/deposito, transfer serta kredit/pembiayaan, pada kenyataannya produk dan jasa yang ditawarkan oleh lembaga keuangan lainnya dan lembaga non keuangan juga menarik bagi para pencuci uang untuk menggunakannya sebagai sarana pencucian uang. Lembaga keuangan maupun lembaga non keuangan lain yang sering digunakan oleh pencuci uang, dengan melibatkan banyak pihak lain tanpa disadari oleh yang bersangkutan, antara lain Perusahaan Efek yang melakukan fungsi sebagai Perantara Pedagang Efek, Perusahaan Asuransi dan Broker Asuransi, Money Broker, Dana Pensiun dan Perusahaan Pembiayaan, Akuntan, Pengacara dan Notaris, Surveyor dan agen real estate, Kasino dan permainan judi lainnya, Pedagang logam mulia, Dealer barang-barang antik, dealer mobil serta penjual barang-barang mewah dan berharga.

Pesatnya pertumbuhan teknologi informasi dan semakin berkembangnya kesadaran akan pentingnya pembentukan rejim anti-money laundering membuat pelaku kejahatan mengubah metode atau cara pencucian uang. Metode konvesional yang biasa digunakan ternyata tidak lagi menjamin keamanan dan kenyamanan pelaku pencucian uang sehingga mereka mulai mencari alternatif lain dengan memanfaatkan perkembangan teknologi. Seperti Internet bank (I-Bank), adalah bank virtual yang menawarkan berbagai fasilitas layaknya bank biasa dimana saja dan kapan saja melalui internet. Beberapa fasilitas yang ditawarkan antara lain pembayaran langsung, transfer e-money, pengeluaran cek, pembelian surat berharga dan pembukaan serta penutupan rekening. Trend menggunakan I-Bank memang berbeda-beda di setiap negara. Di Hongkong misalnya masyarakat lebih senang menggunakan fasilitas bank biasa. Sementara itu di Finland sekitar 85% pembayaran retail melalui fasilitas I-Bank. Di Amerika dari 6% rakyat Amerika menggunakan fasilitas I-Bank.

Saat ini pula banyak sekali situs casino yang didirikan di kepulauan Karibia. Kebanyakan situs ini sama sekali tidak diatur atau diawasi oleh pemerintah. Bahkan beberapa diantaranya tidak meminta identifikasi konsumen. Kondisi inilah yang dimanfaatkan oleh para pelaku pencucian uang karena  semenjak timbulnya gerakan anti-money laundering di dunia, mereka tidak bisa lagi mencuci uangnya di tradisional  casino karena tradisional casino sudah menerapkan prinsip-prinsip anti pencucian uang. Dengan rekening di E-Bank, para pelaku pencucian uang dengan mudahnya melakukan pencucian uang di E-Casino. Mereka tinggal login dengan identitas palsu, dan melakukan beberapa sesi di E-Casino. Uang hasil kemenangan mereka kemudian dibayarkan dalam bentuk cek atas nama casino ke rekening mereka. Dengan proses yang sangat mudah ini, mereka telah melakukan pencucian uang dengan gampang dan menyenangkan. Bahaya akan pencucian uang di E-Casino ini juga telah disadari oleh kongres Amerika. Mereka mencoba membuat legislasi yang melarang perjudian di E-Casino. Namun hal ini gagal karena E-Casino sangat popular di Amerika dan banyak warga negaranya menggunakan fasilitas ini sebagai hiburan.

Besarnya pencucian uang yang menggunakan teknologi canggih ini memang susah untuk ditindak dan diidentifikasi karena sulitnya mendapat bukti. FATF juga sudah menyadari adanya tindakan ini. Hal ini dapat dilihat dari rekomendasinya nomor 13 dari 40 rekomendasi yang telah direvisi pada tahun 1996, yang menyatakan bahwa negara-negara harus memberikan perhatian khusus kepada ancaman pencucian uang yang timbul karena teknologi baru atau yang sedang berkembang yang membantu penghilangan jejak. Negara-negara tersebut harus mengawasi atau jika diperlukan melarang penggunannya dalam pola keuangan. Selain itu, rekomendasi no 26 (f) The Action Plan to Combat Organized Crime of European Union pada tahun 1997 juga mengatur tentang pencucian uang melalui internet atau dengan menggunakan produk E-Money. Action plan itu mengharuskan bahwa dalam pembayaran elektronik atau sistem pencatatanya harus memberikan detail tentang pengirim asli dan penerimanya. Sedangkan untuk mengatasi permasalahan identifikasi konsumen yang tidak berkontak langsung dengan institusi keuangan, EC Anti Money Laundering Directive dalam artikel 3 (11) menyatakan bahwa setiap negara anggota mempunyai penilaian yang cukup untuk mengatasi resiko pencucian uang yang timbul pada seorang konsumen yang secara fisik tidak teridentifikasi dalam melakukan hubungan bisnis atau melakukan transaksi.

Untuk mengatasi permasalahan E-Bank, ada sejumlah masukan yang diberikan kepada FATF Typology Report. Beberapa diantaranya adalah membuat sebuah sistem bagi institusi keuangan untuk benar-benar mengenal nasabahnya yang melakukan berbagai jenis transaksi termasuk transaksi melalui internet, membuat unifikasi standar di berbagai yuridiksi, dan mengembangkan sebuah teknologi untuk mendeteksi transaksi yang mencurigakan dan memferifikasi transaksi yang dilakukan oleh nasabah. Beberapa ahli di FATF memang telah memberikan berbagai masukan untuk mengatasi permasalahan pencucian uang yang menggunakan teknologi tinggi. Tetapi yang perlu diingat adalah bahwa masukan tersebut haruslah yang benar-benar dapat diimplementasikan secara nyata di lapangan sehingga praktik pencucian uang dengan menggunakan teknologi akan tetap dapat dikontrol meskipun teknologi terus berkembang.

Pada masa sekarang telah berkembang suatu pemahaman baru bahwa dalam mencegah para pelaku tindak pidana mengubah dana hasil tindak pidana dari “kotor” menjadi “bersih” adalah dengan cara menyita hasil tindak pidana tersebut merupakan cara yang efektif untuk memerangi tindak pidana itu sendiri. Hal ini karena kekayaan hasil tindak pidana selain merupakan “darah yang menghidupi tindak pidana” (life blood of the crimes), juga merupakan mata rantai yang paling lemah dari keseluruhan proses kegiatan tindak pidana. Kehandalan para “penjahat kerah putih” itu mencuci uang hasil tindak pidana melalui sistem keuangan merupakan hal yang sangat vital untuk suksesnya kegiatan kriminal, sehingga setiap pihak yang terlibat dalam tindak pidana tersebut akan memanfaatkan kelemahan (loopholes) yang  terdapat pada sistem keuangan. Pemanfaatan sistem keuangan sebagai sarana tindak pidana pencucian uang mempunyai potensi besar meningkatkan risiko bagi Penyedia Jasa Keuangan (PJK) secara individual, yang pada akhirnya juga dapat meruntuhkan integritas dan stabilitas sistem keuangan secara keseluruhan. Semakin meningkatnya integrasi antar sistem keuangan dunia dan berkurangnya hambatan dalam perpindahan arus dana, akan memperbesar peluang praktik pencucian uang dalam skala global sehingga mempersulit upaya pelacakannya. Dengan demikian maka PJK yang terlibat dalam tindak pidana pencucian uang akan menanggung risiko untuk dituntut, dan juga kehilangan reputasi pasar, sehingga berakibat pada jatuhnya reputasi Indonesia sebagai negara/wilayah yang aman dan dapat dipercaya bagi investor untuk berinvestasi. (EN)


0 Responses to “aml regime indonesia”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


September 2008
S S R K J S M
    Okt »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

Blog Stats

  • 75,846 hits

%d blogger menyukai ini: