23
Okt
12

Kejahatan Perusahaan & Lingkungan Hidup

Perpustakaan Nasional: Katalog Dalam Terbitan (KDT)
Arie Wishnu Gautama

PENENTUAN KEJAHATAN PERUSAAHAAN
DALAM LINGKUNGAN HIDUP

Hak Cipta@ Arie Wishnu Gautama

Cetakan Pertama, 05 Juli 2012
xvi + 109 hlm + Bibliografi + Indeks + Annex

Penerbit
BOOKS TERRACE & LIBRARY
Kompleks Metro Trade Center Blok B No. 21
Jl. Soekarno-Hatta, Bandung 40268
Telp/Fax : 62-22-7537555

 

Disain & Tataletak
Edi Nasution

ISBN 978-979-19401-9-1

HAK CIPTA DILINDUNGI UNDANG-UNDANG

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

SAMBUTAN
PROF. DR. BISMAR NASUTION, SH, MH.

Di masa-masa lalu Indonesia dikenal oleh bangsa-bangsa lain sebagai sebuah negeri yang subur dan juga memiliki keindahan alam yang mempesona bagaikan surga. Negeri kepulauan yang membentang di sepanjang garis khatulistiwa ini ditamsilkan ibarat “untaian zamrud yang berkilauan” sehingga membuat para penghuninya merasa tenang, nyaman, damai, dan makmur: “gemah ripah loh jinawi”, itulah istilahnya dalam bahasa Jawa kuno. Sementara grup musik Koes Plus dalam salah satu syair lagu mereka ada mengungkapkan bahwa tanaman apa saja bisa tumbuh di negeri ini, bahkan tongkat dan kayu pun bisa tumbuh jadi tanaman yang subur.
Begitulah tanah air kita dahulu pernah dilukiskan oleh sebagian orang. Tetapi seiring dengan berkembangnya peradaban umat manusia, di Indonesia sekarang tidak lagi terasa nyaman untuk dihuni. Tanahnya sudah semakin banyak yang gersang dan tandus. Jangankan tongkat dan kayu, bibit unggul pun bisa pertumbuhannya gagal di Indonesia. Yang lebih menyedihkan lagi, dari tahun ke tahun, Indonesia hanya menuai bencana seperti banjir bandang, tanah longsor, tsunami, atau pun kekeringan yang seolah-olah sudah menjadi fenomena tahunan secara terus-menerus terjadi. Sementara itu, perburuan satwa liar, pembakaran hutan, dan illegal loging juga kerap kali terjadi. dan akibatnya telah merusak ekosistem (lingkungan hidup) kita.

Sebenarnya kita bisa banyak belajar dari kearifan lokal para leluhur kita tentang bagaimana cara memperlakukan lingkungan dengan baik dan bersahabat. Meski secara teoretis mereka buta ilmu pengetahuan, akan tetapi di tingkat praksis mereka mampu membaca tanda-tanda dan gejala alam melalui kepekaan intuitifnya. Seperti masyarakat Mandailing yang bermukim di pedalaman pesisir pantai barat daya Pulau Sumatera (Kabupaten Mandailing Natal) memiliki budaya dan adat-istiadat lokal yang lebih mengedepankan keharmonisan dengan alam sekitar. Berkaitan dengan “air” misalnya tidak terlepas dari dunia mitos dan realitas kehidupan warga masyarakat setempat. Seperti orang-orang Mandailing yang bermarga Lubis misalnya, mengenal betul hikayat leluhurnya Namora Pande Bosi yang menasihatkan anaknya Silangkitang dan Sibaitang, ketika mereka harus meninggalkan kampung Hatongga, agar menyusuri sungai Batang Gadis untuk membuka tempat pemukiman baru. Perkampungan orang Mandailing hingga sekarang selalu didirikan berdekatan dengan sumber-sumber air, apakah itu sungai (batang), anak sungai (aek), atau ranting sungai (rura), bahkan mata air (mual). Nama-nama sungai atau muaranya bahkan banyak dijadikan sebagai acuan nama tempat pemukiman (huta) mereka.

Bagi orang Mandailing, keberadaan air sungai maupun anak sungai yang ada di sekitar mereka berperan multiguna, sebagai air minum dan MCK, mengairi lahan pertanian, mendukung fungsi sosial-budaya (misalnya dalam ritus patuaekkon boru pada upacara adat perkawinan), relijius (mendukung pelaksanaan ibadah), dan juga ekonomi (mencari emas disebut manggore, ikan, bahan bangunan berupa pasir, kerikil dan juga batu). Dalam kepercayaan lama, orang Mandailing juga mengenal tempat-tempat tertentu di sekitar hutan dan sumber air yang disebut “naborgo-borgo”, yang secara sadar maupun tidak sadar mengandung makna konservasi terhadap sumber-sumber mata air. Dengan kata lain, air bagi orang Mandailing merupakan “mata air kehidupan” yang sekaligus bertali-temali dengan institusi sosial, budaya, ekonomi dan ekologis.

Namun ironisnya berbagai peristiwa tragis akibat parahnya kerusakan lingkungan sudah telanjur terjadi. Konsep “membangun tanpa merusak lingkungan” yang dulu pernah gencar digembar-gemborkan hanyalah slogan belaka. Karena kenyataannyanya, atas nama pembangunan, pembabatan hutan dan pembalakan liar masih terus berlangsung hingga sekarang. Sementara itu, hukum pun makin tak berdaya menghadapi para perusak lingkungan hidup yang nyata-nyata telah menyengsarakan jutaan umat manusia. Para investor sepertinya membutakan mata dan tidak menghargai kearifan lokal masyarakat setempat, malahan dianggap sebagai “pahlawan” karena dipandang mampu mendongkrak devisa negara dalam upaya mengejar pertumbuhan ekonomi dan daya saing bangsa kita baik di kawasan Asia maupun dunia internasional.
Praktik illegal logging menimbulkan dampak sosial-ekonomi yang buruk terhadap kehidupan masyarakat, seperti kehilangan pekerjaan akibat penjarahan hutan, konflik sosial baik antar masyarakat maupun antara masyarakat dengan perusahaan pemegang HPH. Selain itu juga berdampak buruk terhadap lingkungan hidup dengan rusaknya ekosistem hutan sehingga menyebabkan terjadinya bencana alam seperti banjir, kekeringan, dan tanah longsor. Ekosistem hutan yang rusak ini ditunjukkan dengan hilangnya biodiversitas, yang pada gilirannya dapat menyebabkan terjadinya pemanasan global sehingga flora dan fauna yang hidup di dalamnya tidak lagi memperoleh perlindungan secara alamiah.

Dalam praktiknya di lapangan, illegal logging dapat dilakukan dengan dua cara: Pertama, dilakukan oleh operator sah namun melanggar ketentuan-ketentuan dalam ijin yang dimiliki; dan kedua, melibatkan pencuri kayu dimana pohon-pohon ditebang oleh orang yang sama sekali tidak mempunyai hak legal untuk menebang. Sedangkan penyebab terjadinya illegal logging, antara lain karena: Pertama, adanya krisis ekonomi yang berkelanjutan mengakibatkan tingginya harga-harga barang konsumsi, sementara masyarakat di sekitar hutan yang sudah miskin tidak lagi mampu mencukupi kebutuhan hidupnya, sehingga salah satu cara yang paling mudah adalah memanfaatkan hutan untuk kepentingan diri sendiri tanpa memperhatikan kaidah-kaidah pemanfaatan hutan, khususnya kayu, dengan cara-cara yang tidak benar. Kedua, dengan krisis ekonomi ini pula mengakibatkan perusahaan yang bergerak di sektor kehutanan, khususnya industri kayu, banyak yang mengalami kemunduran usaha, karena tingginya harga-harga barang produksi, sehingga untuk mendapatkan bahan baku kayu dengan harga murah dilakukan pembelian kayu illegal yang berasal dari hasil praktik illegal logging. Ketiga, masih kurangnya kesadaran bersama akan pentingnya fungsi hutan dan lingkungan hidup dalam upaya Pembangunan Nasional yang berkelanjutan. Keempat, lemahnya penegakan hukum.

Seyogiayanya sumber daya alam (SDA) dan lingkungan hidup (LH) di Indonesia merupakan modal dasar pembangunan nasional, yang berfungsi sebagai penyedia bahan baku bagi pembangunan ekonomi dan pendukung sistem kehidupan secara berkelanjutan. Untuk itu, agar pembangunan dan kehidupan manusia dapat terus berkesinambungan, maka pengelolaan dan pemanfaatan SDA dan LH harus dilakukan secara rasional, efisien, bijaksana, dan berkelanjutan. Sesuai dengan amanat RPJM 2010-2014, arah pembangunan di bidang SDA dan LH dikelompokkan menjadi dua, yaitu pengelolaan SDA dan LH untuk: (1) mendukung pembangunan ekonomi, dan (2) meningkatkan kualitas dan kelestarian lingkungan hidup. Adapun arah kebijakan pengelolaan SDA dan LH untuk mendukung pembangunan ekonomi dijabarkan lebih lanjut ke dalam 3 (tiga) prioritas, yaitu: (1) peningkatan ketahanan pangan dan revitalisasi pertanian, perikanan, dan kehutanan; (2) peningkatan ketahanan dan kemandirian energi; dan (3) peningkatan pengelolaan sumber daya mineral dan pertambangan.

Sesungguhnya penanganan illegal logging tidak dapat berhasil dengan baik apabila hanya ditangani di dalam negeri saja, tetapi juga harus melibatkan pihak luar negeri, karena illegal logging sangat terkait erat dengan banyaknya permintaan kayu dari luar negeri. Dalam hubungan ini, ada dua cara pendekatan yang dapat dilakukan dalam upaya menanggulangi illegal logging. Pertama, secara prefentif yaitu cara-cara yang dilakukan dengan jalan pencegahan sebagaimana yang telah ditempuh oleh Departemen Kehutanan dengan menerbitkan SK Meneteri Kehutanan (No. 05.1/Kpts-II/2000 dan No. 541/Kpts-II/2002), SK Bersama Menteri Kehutanan dan Menteri Perdagangan (No. 1132/Kpts-II/2001 dan No. 292/MPP/Kep/10/2001) yang dikuatkan dengan Peraturan Pemerintah Nomor 34 Tahun 2002 (yang secara tegas melarang ekspor log dari Indonesia), dan melakukan kerjasama dengan negara-negara lain, yaitu penandatanganan Memorandum of Understanding (MOU) dengan Pemerintah Inggris pada tanggal 18 April 2002 dan dengan Pemerintah RRC pada tanggal 18 Desember 2002 dalam rangka memberantas illegal logging dan illegal trade. Sedangkan pendekatan yang kedua adalah dengan cara represif, yaitu melakukan operasi secara mendadak di lapangan dengan melakukan kerjasama dengan TNI AL dalam pelaksanaan Operasi Wanabahari, serta dengan Polri dalam pelaksanaan Operasi Wanalaga.
Namun demikian, kedua cara pedekatan tersebut di atas dirasakan belum cukup efektif mengingat praktek illegal logging di Indonesia persoalannya begitu rumit dan kompleks. Untuk itu perlu diambil beberapa langkah penting berikutnya, antara lain:

Pertama, pemberdayaan masyarakat di sekitar hutan. Meskipun Perum Perhutani telah melaksanakan program PHBM (Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat), namum demikian masih sangat perlu dukungan dari Pemerintah Daerah, karena dengan adanya Undang-Undang Otonomi Daerah, Pemerintah Daerah mempunyai kewenangan yang penuh untuk melangsungkan pembangunan berkelanjutan.

Kedua, pemberantasan terhadap pedagang-pedagang sebagai penadah kayu dan industri-industri kayu yang menggunakan bahan baku kayu dari hasil illegal logging secara kontinyu dan terprogram dengan melibatkan berbagai unsur dalam masyarakat.

Ketiga, memberikan penghargaan pada masyarakat atau aparat yang dapat menunjukkan atau menangkap pedagang-pedagang dan industry-industri yang menggunakan kayu dari hasil illegal logging.

Keempat, karena illegal logging merupakan masalah bersama maka harus diselesaikan dengan melibatkan instansi-instansi terkait termasuk Departemen Industri dan Perdagangan. Dan oleh karena itu kebijakan-kebijakan yang diambil oleh pemerintah merupakan kebijakan antar Departemen.

Kelima, perlunya sosialisasi tentang pentingnya fungsi hutan dan lingkungan hidup yang berkelanjutan kepada anak didik mulai dari tingkat yang paling dasar hingga ke jenjang perguruan tinggi.

Keenam, penegakan hukum yang tegas dan konsisten, serta adil dengan menghilangkan perlakuan yang bersifat diskriminatif dapat mewujudkan kepastian hukum dan supremasi hukum. Karena sebagai negara hukum (rechstaat), maka setiap perbuatan yang melanggar hukum mutlak dihukum sesuai dengan ketentuan yang berlaku di Indonesia, tidak terkecuali pelaku kejahatan illegal logging yang harus ditindak seberat-beratnya karena merusak ekosistem (lingkungan hidup) masyarakat luas. Pelaku kejahatan illegal logging dapat diminta tanggung jawabnya secara hukum berdasarkan prinsip “fault liability” (adanya unsur kesalahan), “rebut table preruption” (adanya praduga), dan “no fault liability” (tanggung jawab mutlak). Sedangkan penegakan hukum yang efektif terhadap pelaku kejahatan illegal logging dapat dilakukan melalui penerapan sanksi pidana dengan sistem peradilan pidana yang dilakukan secara terpadu (integrated criminal justice system).

Akhir kata, dengan terbitnya buku ini diucapkan selamat kepada Sdr. Arie Wishnu Gautama. Meskipun buku ini memang masih memiliki banyak kelemahan dan kekurangan bila ditinjau dari berbagai segi, baik substansi maupun cakupan pembahasannya, namun diharapkan dapat menimbulkan minat para pembaca untuk melakukan penelitian yang lebih jauh dan mendalam tentang pokok-pokok pikiran yang ada, terutama mengenai prinsip-prinsip pertanggungjawaban hukum pelaku kejahatan illegal logging, yang dituangkan dalam buku ini.

Medan, Juli 2012
Bismar Nasution
Guru Besar USU


0 Responses to “Kejahatan Perusahaan & Lingkungan Hidup”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Oktober 2012
S S R K J S M
« Mar   Nov »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Blog Stats

  • 75,846 hits

%d blogger menyukai ini: