17
Mei
13

Memiskinkan Koruptor ?

Perpustakaan Nasional: Katalog Dalam Terbitan (KDT)

cover miskin koruptor

Miskinkan Koruptor !

Pembuktian Terbalik Solusi Jitu Yang Terabaikan

xii + 228 hlm + Bibliografi + Indeks, 16 cm x 22 cm

Cetakan pertama,  April 2013

Hak Cipta@ DR. Muhammad Yusuf

Penerbit

Pustaka Juanda Tigalima

Jl. Ir. H. Juanda No. 35

Jakarta 10120

 

 

Tataletak

Edi Nasution

ISBN  978-979-18386-5-8

HAK CIPTA DILINDUNGI UNDANG-UNDANG

 

RESENSI

Di dalam Kata Pengantar DR. Muhammad Yusuf (penulis) mengemukakan bahwa buku ini mengulas masalah penerapan sistem pembalikan beban pembuktian (reversal burden of proof ) terhadap perkara korupsi dan pencucian uang. Hal ini dapat dilakukan mengingat Undang-Undang Tindak Pidana Korupsi dan Undang-Undang Tindak Pidana Pencucian Uang sama-sama mengandung asas pembalikan beban pembuktian. Namun demikian, selain mengurai berbagai aspek penting terkait dengan penerapan sistem pembalikan beban pembuktian terhadap praktik korupsi dan pencucian uang, di dalam buku ini juga dikaji beberapa perkara korupsi dan pencucian uang yang dijadikan sebagai studi kasus (case study).

Penelitian studi kasus adalah sebuah metode penelitian yang secara khusus menyelidiki fenomena kontemporer yang terdapat dalam konteks kehidupan nyata, yang dilaksanakan ketika batasan-batasan antara fenomena dan konteksnya belum jelas, dengan menggunakan berbagai sumber data. Obyek yang dapat diangkat sebagai kasus bersifat kontemporer, yaitu yang sedang berlangsung atau telah berlangsung tetapi masih menyisakan dampak dan pengaruh yang luas, kuat atau khusus pada saat penelitian dilakukan, seperti kasus DR. Drs. Bahasyim Assifie, M.SI seorang pegawai negeri yang menduduki jabatan Kepala Kantor Pemeriksaan dan Penyidikan Pajak Jakarta Tujuh, hingga saat ini masih hangat diperbincangkan orang meskipun kasusnya telah digelar tiga tahun silam di pengadilan (2010). Selain perkara Bahasyim Assifie, di dalam buku ini juga diurai perkara ECW Neloe, Adrian Herling Waworuntu, Yudi Hermawan, dan Agi Sugiono.

Melalui pemberitaan media masyarakat kita sudah banyak yang mengetahui bahwa praktik korupsi di Indonesia telah menyebar dan merata di kalangan eksekutif, legislative, dan yudikatif, bahkan di kalangan swasta sekalipun. Individual corruption sebagai bentuk konvensional sudah tertinggal sekarang, dan digantikan oleh korupsi sistemik atau korupsi kelembagaan. Dalam hal ini, polemik korupsi dan kekuasaan memang sudah menjadi pasangan langgeng dalam suatu birokrasi kekuasaan. Prof. Michael Levi – dalam bukunya Regulating Fraud, White Collar Crime and the Crimial Process (1987) – menunjukkan adanya suatu kejahatan yang melibatkan pejabat publik sebagai karakteristik White Collar Crime (kejahatan kerah putih). Selain sulit tingkat pembuktiannya, sulit pula menentukan status pelakunya dan para koruptor selalu dapat berlindung dengan justifikasi lemahnya norma legislasi, bahkan beyond the law dengan memanfaatkan norma dibalik asas legalitas yang relatif. Sementara Prof. August Bequai dalam bukunya White Collar Crime: A 20th – Century Crisis (1978) mengakui bahwa korupsi kelembagaan merupakan karakteristik dan krisis di abad ke-20 dari kejahatan kerah putih yang meliputi para birokrat publik di hampir semua sektor kelembagaan politik dan ketatanegaraan, baik yang independen maupun yang terikat birokrasi kelembagaan. Korupsi kelembagaan selalu berkaitan dengan masalah kebijakan, baik yang dimanfaatkan oleh para aparatur negara maupun minimalisasinya pemahaman penegakan hukum antara makna penyalahgunaan wewenang dalam area Hukum Administrasi Negara dan Hukum Pidana.

Prof. August Bequai menambahkan bahwa secara konseptual, pada negara-negara berkembang (termasuk Indonesia-pen), pemikiran bahwa korupsi ini merupakan bahagian dari kekuasaan menjadi tidak diragukan lagi karena korupsi merupakan bagian dari sistem itu sendiri, karenanya ada yang berpendapat bahwa penanggulangan yang terpadu adalah dengan memperbaiki “sistem” yang ada. Dalam hubungan ini, artikulasi “sistem” memiliki makna yang luas dan komprehensif, bahkan dapat dikatakan sebagai suatu proses yang signifikan. “Korupsi” sebagaimana dikemukakan di atas sudah sebagai bahagian kejahatan terstruktural yang sangat utuh, kuat dan permanen sifatnya. Dengan kata lain, “korupsi” sudah menjadi bahagian dari “sistem” yang ada, karenanya suatu usaha yang maksimal bagi penegakan hukum, khususnya pemberantasan tindak pidana korupsi, harus dilakukan dengan pendekatan “sistem” itu sendiri (systemic approach). Apalagi bila “pendekatan sistem” ini dikaitkan dengan peranan institusi peradilan yang sangat menentukan sebagai salah satu institusi penegak hukum dalam proses akhir pemberantasan korupsi.

Maka dari itu, penanganan tindak pidana korupsi dan pencucian uang tidak hanya sekedar pemidanaan semata, tetapi juga bagaimana kebijakan Hukum Pidana menghadapi invisible crime tersebut. Dengan kata lain, permasalahan penegakan hukum seperti di Indonesia tidak akan pernah bisa ditanggulangi kalau hanya substansi perundang-undangan saja yang dibenahi, sebab hal tersebut juga sangat erat sekali kaitannya dengan sistem, khususnya sistem Hukum Pidana, yang telah rusak karena marak dan meluasnya praktik korupsi di seluruh penjuru tanah air kita.

Jakarta, Mei 2013

Edi Nasution


2 Responses to “Memiskinkan Koruptor ?”


  1. 1 nurfadhila
    Januari 16, 2014 pukul 2:47 am

    pak…
    buku miskinkan koruptor ini di perjualbelikan di toko buku atau tdk pak…?
    karena saya butuh buku ini sebagi salah satu referensi utk tgs akhir saya pak…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Mei 2013
S S R K J S M
« Des   Jun »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Blog Stats

  • 75,846 hits

%d blogger menyukai ini: