05
Jun
13

Adat “Markobar” dalam “Hata Bou”

Perpustakaan Nasional: Katalog Dalam Terbitan (KDT)

cover buku HATA BOUHata Bou: Mandok Ulang Agoan

ii + 78 hlm ; 14 cm x 21 cm

Cetakan pertama, Mei 2013

Hak Cipta@ H. Armeyn Nasution

 

Penerbit

Yayasan Bindu Nusantara

Medan 

Tataletak

Edi Nasution

 

ISBN  978-602-18579-2-2

HAK CIPTA DILINDUNGI UNDANG-UNDANG

Dilarang memperbanyak isi buku ini sebagian atau seluruhnya dalam bentuk apapun tanpa izin penerbit, kecuali untuk pengutipan dalam penulisan artikel  atau karangan ilmiah.

=====================================================

SEDIKIT TENTANG BUKU INI

Assalamu’alaikum Wr.Wb.

Horas Mandailing !!!

 

Sumber utama buku ini adalah “tulisan tangan” (catatan) ayahku H. Armeyn Nasution pada sebuah “buku Notes” dan tiga buah “Buku Tulis” yang berisi tentang tradisi markobar (“berpidato adat”) dalam salah satu upacara adat di Mandailing yang disebut Hata Bou: Mandok Ulang Agoan. Upacara adat ini dilakukan untuk memberitahukan kepada orangtua seorang gadis – dan juga kepada kaum-kerabatnya, bahwa si anak gadis telah dibawa pergi (“dilarikan”) oleh seorang pemuda ke rumah orangtuanya dengan maksud untuk dijadikan istrinya. Di Mandaling, peristiwa “kawin lari” ini disebut marlojong atau lengkapnya mangalojongkon boru. Oleh karena adanya kejadian penting seperti itulah maka orangtua si pemuda mengundang kaum-kerabat ke rumahnya untuk musyawarah dan mufakat agar masalah krusial marlojong itu dapat diselesaikan sebaik-baiknya dengan orangtua si gadis dan kaum-kerabatnya sesuai adat-istiadat (kebiasaan) leluhur mereka.

Ayahku menuliskan tradisi markobar atau marhata-hata dalam upacara adat Mandok Ulang Agoan (Hata Bou) ini cukup lengkap, dan tulisan tangannya rapi serta bagus sehingga bagiku tidak sulit untuk menyalinnya kembali dengan menggunakan “perangkat lunak” (komputer). Dalam cacatannya itu tergambar cukup jelas siapa yang markobar (“berpidato adat”) dan apa yang dikatakannya dalam Saro Mandailing (Bahasa Mandailing) sesuai dengan ketentuan adat Dalian Na Tolu: apakah itu pihak mora, kahanggi, anakboru dan hatobangon, begitu juga dengan tahap-tahapan (proses) dari kegiatan adat Mandok Ulang Agoan (Hata Bou) tersebut.

Karena yang dicacat oleh ayahku itu hanya markobar atau marhata-hata saja, maka sengaja kubuat sebuah “pengantar khusus” untuk buku ini. Di situ kuceritakan berbagai aspek penting kebudayaan Mandailing seperti bahasa, sistem sosial, religi, sistem mata pencaharian hidup, sejarah dan lingkungan alam sekitar (etnografi) secara “selayang pandang”, dengan maksud agar kegiatan adat markobar atau marhata-hata tersebut dapat lebih dimengerti dan dipahami oleh para pembaca. Selain itu, pengantar dimaksud menurut hemat saya juga dapat menjadi pengetahuan (gambaran) umum mengenai eksistensi kelompok etnik Mandailing untuk diketahui khalayak banyak di luar warga masyarakat Mandailing.

Demikian sekilas tentang buku ini dan semoga bermanfaat bagi kita semua. Sekiranya ada saudara-saudara kami (koum-sisolkot) yang ingin memiliki buku HATA BOU: MANDOK ULANG AGOAN ini dapat membuat pesan (message) ke inbox kami.

Wassalam,

Edi Nasution

https://www.facebook.com/edi.nasution.39?ref=tn_tnmn

edi.nasution@gmail.com


4 Responses to “Adat “Markobar” dalam “Hata Bou””


  1. 1 ibrahim nasution
    September 20, 2013 pukul 12:24 pm

    ijiado bisa idapotkon buku nai?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Juni 2013
S S R K J S M
« Mei   Nov »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930

Blog Stats

  • 75,846 hits

%d blogger menyukai ini: