14
Nov
13

Buku panduan markobar

penulis dsn buku markobar

penulis dsn buku markobar

Buku Panduan Markobar

PANDUAN MARKOBAR DALAM BUDAYA MANDAILING 

Oleh: Mhd. Bakhsan Parinduri (Jasinaloan)

Penerbit CV. Deli Grafika

Jl. Letda Sujono Gg. Pejuang No. 3

Medan 20225

Cetakan Pertama, Mei  2013

iv + 99 hlm (termasuk Referensi &Glosarium)

ISBN  978-602-1577-00-4

Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang

 

=======================

 

 

RESENSI

 

Drs. Muhammad Bakhsan Parinduri (Jasinaloan), penulis buku PANDUAN MARKOBAR DALAM BUDAYA MANDAILING ini, lahir dan beranjak dewasa di  Desa Tombang Bustak – Mandailing Julu. Ia menammatkan sekolah dasar hingga lanjutan atas di Kotanopan dan meraih gelar kesarjanaan (S-1) dari Fakultas Sastra Universitas Sumatera Utara (USU) Medan.

Ide penulisan buku ini merupakan opini sahabatnya bernama Amsal Nasution, B. Eng (Anggota DPRD Sumut Praksi PKS). Kata temannya itu, yang juga lulusan SMA 108 Kotanopan dan alumni FakultasSastra USU, betapa banyak saudara kita (orang Mandailing) yang berniat untuk pandai “markobar” (berpidato adat) dalam sidang adat Mandailing. Namun, bahan yang dijadikan sebagai sumber belajar sangat sulit didapatkan. Kalaupun ada pengajaran “markobar” tersebut ditulis dengan Bahasa (Saro) Mandailing.

Oleh sebab itulah Jasinaloan membuat buku ini. Untuk itu, ia harus mengulang baca sumber-sumber “paradaton” yang tersedia, termasuk mendengar kembali rekaman-rekaman yang dimilikinya. Selain itu, ia juga banyak bertanya dan mewawancarai sejumlah tokoh adat dan pemuka masyarakat Mandailing.

Dalam hal “markobar” ini, Jasinaloan menemukan suatu kejanggalan, dimana jika selama ini tokoh-tokoh Mandailing yang sudah sering malang-melintang di dunia internasional menjadi “narasumber”dan “pembicara” di televisi, politisi kawakan, mantan kepala daerah, keturunan raja-raja, ustad yang sehari-harinya tidak terlepas dari memberi ceramah, tetapi mereka umumnya menolak atau tidak berkutik dalam acara “markobar”.

Memang beberapa dekade  belakangan ini, menurut Jasinaloan, tradisi “markobar” telah menjadi fenomena kebahasaan yang menggejala, yang tidak hanya terjadi di kota-kota besar tetapi juga di tanah leluhur Mandailing karena ketrampilan “markobar” semakin mengalami abrasi. Jangankan untuk “markobar” dalam upacara adat “Manyapai Boru”, “Pasahat Utang Boban”, “Mandokon Ulang Agoan (Hata Bou)”, dan yang lainnya. Malah untuk suatu kegiatan adat yang sederhana saja misalnya seperti menyampaikan terima kasih, “manyurdu burangir”, mempersilahkan makan pun sekarang membutuhkan jasa seorang “parkobar”. Akibatnya, “parkobar” menjadi semakin langka, dimana sebagian besar orang Mandailing, terutama yang tinggal di kota-kota besar tidak berkenan atau tidak sanggup melaksanakan tugasnya sepanjang adat (“inda tarjuguki ia jugukan ni ibana”). Keadaan yang demikian menyebabkan banyaknya “parkobar carteran” dalam pelaksanaan adat Mandailing di kota-kota besar.

Munculnya “parkobar bayaran” ini sangat menyalahi adat Mandailing. Dalam hal ini, ada satu pribahasa Mandailing yang mengatakan: “Ulang isuan bulu na so marruas”. Maksudnya, agar setiap orang Mandailing itu tahu diri, mengetahui posisi dan kedudukan masing-masing dalam adat, serta tahu akan etika dalam kehidupan bermasyarakat. Mengaku dirinya “suhut”,“Anakboru”, “mora”, atau pun “kahanggi”, padahal bukan, hal itu kan melanggar adat dan etika. Apalagi mengaku sebagai “raja”, padahal tidak ada “longit” kerbau yang disembelih sewaktu ia dinikahkan.

Meskipun demikian keadaannya, orang Mandailing umumnya masih memandang kegiataan “markobar” ini sangat penting karena mereka masih menganggapnya sakral, traditif, ataraktif, dan artistik. Kegiatan “markobar” dianggap sebagai sesuatu yang sakral karena sebagian besa rpokok pikiran yang disampaikan dalam acara “markobar” adalah hal-hal yang menjunjung kebaikan dan menghindari perbuatan yang tidak baik (amar ma’ruf nahimunkar). Di sisi lain, kegiatan “markobar” juga bertujuan untuk memberi nasihat(“marsipaingot”). Tradisi “marsipaingot” ini selalu disampaikan kepada pengantin baru (“namorapule”) dalam upacara adat perkawinan (“marbagas”).

“Markobar” dianggap sebagai tradisi karena sudah menjadi suatu konvensi bagi masyarakat Mandailing, baik yang berdomisili di kampung halaman maupun yang menetap di perantauan. Tentu saja akan sangat janggal sekali apabila dalam suatu upacara adat perkawinan misalnya tidak dilaksanakan kegiatan “markobar”.

“Markobar” dianggap sebagai kegiatan ataraktif karena dalam praktiknya para “parkobar” (disebut juga “parhata-hata”) ini pun bertindak sebagai “juru runding” yang dapat mempengaruhi keputusan yang akan diambil.Kepiawaian “parkobar” dalam mendayagunakan kata-kata yang mempesona dalam “markobar”ini dapat memperlancar dan memuluskan urusan, sebagaimana pribahasa Mandailing mengatakan:“hata-hata do dupang-dupang, hata-hata do panggarar utang”.

Dan “markobar” dianggap sebagai kegiatan artistik karena dalam prosesi tersebut memang menggunakan fungsi bahasa artistik, yaitu dengan sengaja menggunakan gaya bahasa yang khas, pilihan kata, dan intontasi yang sesuai.

Dengan adanya contoh-contoh teks “markobar” dalam buku ini semakin memudahkan kita untuk belajar dan memahami “markobar” sebagai kegiatan adat yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat Mandailing.

Demikian sekelumit informasi tentang isi buku ini, dan bila ada koum-sisolkot yang berminat memiliki buku ini dapat menghubungi penerbit dan penulisnya (https://www.facebook.com/bakhsan.parinduri).

Jakarta, 14 November 2013

Edi Nasution

 


0 Responses to “Buku panduan markobar”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


November 2013
S S R K J S M
« Jun   Jan »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930  

Blog Stats

  • 75,846 hits

%d blogger menyukai ini: